Kami hanyalah pemuda Indonesia. Tumbuh, berkembang, belajar. Sampai pada hari ini kami menemukan begitu banyak kebingungan dan ketidakadilan. Di manakah itu? Siapa menduga, di sinilah tempatnya, di negeri yang kata orang negeri hukum.
Namun, apa daya kuasa kami. Kami hanya mampu menarikan jari di atas sebuah alat teknologi. Memainkan kertas dan tinta, berpacu dalam mengejar sebuah "nilai". Akan tetapi, hati nurani kami bertanya "Kepada siapa kami harus membantu?" "Kepada siapa kami harus mengadu?". Sungguh besar empati kami pada Nusantara ini. Namun, apa peduli para penguasa kepada kami? Kami adalah generasi muda yang seharusnya berkembang malah menjadi ladang empuk, menjadi saksi mata kehancuran di negeri ini. Entah berapa lama lagi negeri antah berantah ini berevolusi.
Kami generasi muda hanya ingin bersuara, "Kita tak butuh pemimpin yang hanya pandai mengancam, mengecam, mengutuk atau bahkan menindas!Kita tak butuh Wakil rakyat yang tulu sebelah telinga! Kita tak butuh Wakil Rakyat gila jabatan demi citra pribadi! Kita tak butuh tokoh keyakinan yang merasa dirinya benar hingga berani menghancurkan hidup orang lain!"
Di manakah keadilan negeri ini? Ke manakah kami harus mengadu? Bagaimana Kami harus mulai membangun? "Orang tua" seakan tak pernah percaya lagi pada kami. Labil, berpikiran pendek, pesimis, itulah anggapan tentang kami. Namun, siapakah yang sebenarnya lebih berotak pendek? Sungguh mengenaskan negeri ini. Bila ibu pertiwi ada, mungkin beliau akan menangis melihat Nusantaranya sedang bergejolak. Inilah aspirasi kami. Kami hanyalah sebagai generasi muda yang ingin mewujudkan cita-cita bangsa yang besar ini.
diunduh dari http://stefanny9b31.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar